Aku adalah orang pertama dan satu-satunya korban iklan TV Amikom?

Thursday, March 17, 2016 suparman 6 Comments


Halo guys,

Kali ini aku ingin bercerita tentang alasan kenapa dulu aku memilih kuliah di STMIK AMIKOM Yogyakarta, bagaimana ekspektasiku sebelum masuk, dan bagaimana kenyataannya setelah menjadi mahasiswa di sana.

Semua Berawal dari Iklan TV

Sebelum menjawab kenapa aku memilih AMIKOM, kalian harus tahu dulu dari mana aku mengenal kampus itu.

Semuanya berawal saat aku masih duduk di bangku SMP. Dari kecil aku memang terbiasa bangun dini hari, sekitar jam 1 sampai jam 3 pagi. Setelah bangun biasanya aku mencari makanan apa pun yang bisa dimakan, lalu menonton TV.

Nah, pada jam-jam itulah iklan AMIKOM sering muncul.

Lucunya, saat itu aku hanya tahu dua kampus: UGM dan AMIKOM. Aku bahkan mengira UGM tidak memiliki jurusan yang berhubungan dengan IT. Jadi setelah berkali-kali melihat iklan AMIKOM, aku mulai bercita-cita kuliah di sana.

Di pikiranku waktu itu, AMIKOM adalah tempat yang bisa mengabulkan mimpiku untuk menjadi ahli IT.

Lulus SMK, Tapi Tidak Tahu Harus Biaya dari Mana

Setelah lulus SMK, keinginanku untuk kuliah di AMIKOM sudah sangat kuat. Masalahnya cuma satu: biaya.

Sejak kecil aku memang lebih banyak dibiayai oleh saudara-saudaraku. Saat lulus SMK pun tidak ada om atau tante yang menawarkan untuk membiayaiku kuliah.

Karena itu aku berpikir untuk mencari uang sendiri.

Tapi "mencari uang" versiku bukan bekerja seperti kebanyakan orang. Entah kenapa, sejak kecil aku memang tidak pernah bercita-cita menjadi karyawan. Jiwa entrepreneur mungkin memang sudah ada sejak dulu.

Saat itu aku mulai mencoba menghasilkan uang dari bisnis online, khususnya mobile web. Targetku sederhana: menganggur selama dua tahun sambil mengumpulkan uang agar bisa membiayai kuliah sendiri di AMIKOM.


Tiba-Tiba Ada Kesempatan

Beberapa bulan setelah lulus SMK, kakak laki-lakiku mulai bekerja di luar pulau.

Tidak lama kemudian aku ditawari untuk kuliah.

Sudah pasti pilihanku hanya satu: STMIK AMIKOM Yogyakarta.

Rasanya senang sekali. Akhirnya aku bisa menjawab pertanyaan yang sering muncul waktu itu:

"Sekarang kuliah atau kerja di mana?"

Yang membuatku heran justru respons orang-orang di sekitarku. Hampir semua tidak tahu AMIKOM itu apa, bahkan tidak tahu lokasinya.

Padahal aku merasa kampus itu terkenal sekali karena sering muncul di TV.

Aku cuma berpikir, "Mungkin mereka jarang nonton TV."


Mulai Muncul Keraguan

Aku mendaftar dengan sangat yakin. 

Namun setelah proses pendaftaran selesai, justru rasa bimbang mulai muncul.

"Kenapa kok gampang banget masuknya?"

Tidak ada tes tertulis yang berarti.

Tes wawancaranya juga terasa seadanya.

Justru tantangan terbesarnya malah mencari alamat kampus. Aku sampai nyasar tiga kali dari Magelang menuju Jalan Solo.

Lalu muncul pertanyaan lain.

Kalau memang kampus ini sebagus yang kubayangkan, kenapa teman-temanku di Jogja justru menyarankan UGM, UNY, UIN, dan kampus-kampus lain?


Mulai Googling

Karena penasaran, aku mulai mencari informasi di Google.

Aku mencari "kampus terbaik di Indonesia". Yang muncul hampir selalu UGM.

Lalu aku mencari "kampus IT terbaik". Hasilnya kebanyakan berasal dari luar Yogyakarta.

Aku masih berusaha meyakinkan diri kalau AMIKOM tetap menjadi kampus IT terbaik di Jogja.

Aku juga membaca banyak diskusi di forum dan Yahoo Answers.

Sebagian besar orang menjawab UGM lebih baik, tapi menurutku waktu itu alasannya kurang meyakinkan.

Ada satu komentar yang akhirnya membuatku mantap. Kurang lebih isinya seperti ini:

"UGM memang kampus yang bagus. Tapi jurusan Ilmu Komputernya hanya sedikit kelas. Mahasiswanya bisa saja kalah prioritas dibanding jurusan lain. Berbeda dengan AMIKOM yang fokus di bidang IT, kelasnya banyak, komunitasnya banyak, sehingga mahasiswa lebih produktif."

Entah benar atau tidak, tapi saat itu komentar itu cukup membuatku yakin.


Hari Pertama yang Membuatku Kaget

Setelah resmi masuk, aku mengikuti Pelatihan Super Unggul (PSU).

Awalnya kami diberi motivasi tentang prospek dunia IT, dan itu cukup menyenangkan.

Namun ada satu hal yang sampai sekarang masih kuingat.

Di awal materi, beberapa pemateri mengatakan sesuatu yang kurang lebih seperti ini:

"Saya tahu kalian masuk sini bukan karena pintar. Kalau kalian pintar, pasti sudah masuk kampus lain. Kalian masuk sini karena ditolak di tempat lain, kan?"

Jujur, aku sakit hati.

Lho... aku masuk AMIKOM justru karena itu cita-citaku sejak SMP.

Kenapa malah diasumsikan seperti itu?

Untungnya setelah itu materinya berubah menjadi lebih memotivasi, meskipun kalimat tadi tetap membekas di pikiranku.


Dosen yang Membuatku Makin Bingung

Yang membuatku makin bingung, beberapa dosen juga sempat bercanda atau berkata bahwa mahasiswa AMIKOM adalah "buangan" kampus lain.

Aku jadi berpikir:

"Kalau dosennya sendiri tidak bangga, bagaimana mahasiswanya bisa bangga?"

Saat itu juga aku merasa beberapa mata kuliah awal terlalu dasar. Banyak materinya yang sebenarnya sudah kubaca sendiri dari internet.

Sempat ada rasa kecewa.

Untungnya ada satu hal yang membuatku tetap betah.

Teman.

Di AMIKOM aku benar-benar merasakan punya banyak teman untuk pertama kalinya. Pengalaman itulah yang membuatku bertahan.

(Skip dulu ya... bagian ini mungkin akan jadi cerita di postingan berikutnya.)


Plot Twist

Beberapa semester kemudian, salah satu dosen favoritku pernah bercerita tentang strategi promosi AMIKOM.

Beliau mengatakan bahwa iklan TV yang tayang dini hari sebenarnya tidak efektif.

Bahkan berdasarkan survei yang beliau lakukan, tidak ada satu pun mahasiswa yang masuk AMIKOM karena melihat iklan TV.

Saat mendengar itu aku langsung tertawa dalam hati.

Kalau begitu...

...mungkin aku adalah satu-satunya mahasiswa yang benar-benar masuk AMIKOM gara-gara iklan TV.

Sekaligus mungkin orang yang paling menyesal karena terlalu percaya iklan TV. πŸ˜‚

Sekian.



6 comments:

  1. Halo mas suparman, saya mahasiswa IT 2013. Menanggapi post di atas memang Amikom bukan bukan kampus IT yang kompeten in my opinion. Pada dasarnya amikom hanya berperan sebagai wadah saja, jika mas suparman merasa teori dan materi yang diberikan kelewar dasar, silahkan meng-explore sendiri mareri dan teori itu di luar kampus.

    Mas masih mending berfikir salah kampus, saya malah berfikir kalau saya salah jurusan dan kampus πŸ˜‚

    Iya semoga ke depannya Amikom akan lebih baik lagi 😊

    ReplyDelete
  2. Haha korban tv, smg ada hikmahnya ya 😊

    ReplyDelete
  3. Setuju mas.
    Kamu ga sendirian kok. Saya contohnya. Ketipu mentah mentah sama promosi nya. Isinya blong semua. Makin kesini kayaknya kualitasnya ga makin bagus. Tetangga ambil program internasional. Dosennya gal mutu semua. Kalo kuliah cuma. Ditinggal online. Nge game sama mahasiswanya. Kasihan. Bayar mahal cuma buat bikin film doang. Fasilitas dan gedung sih oke. Otak nol besar. Nyesel

    ReplyDelete
  4. nitip http://krulpress.blogspot.com/2017/02/mengenal-salah-satu-pts-terbaik-di.html

    ReplyDelete